top of page

Amman

  • Sep 1, 2019
  • 3 min read

Kedatanganku di Bandara Queen Alia disambut angin cukup dingin, padahal matahari nampak terik. Alirannya di pipi membuat kantukku perlahan menghilang pasca terbang belasan jam. Terlihat di hadapanku keramaian para pemilik wajah Timur Tengah, semoga salah satunya Assia, teman pena yang sudah kukenal 3 tahun lalu. Semoga juga wajahnya tidak jauh berbeda dari foto yang ada di profilenya.

“Jasmine!” suara seorang wanita membuatku menoleh. “Assia?” Iya mengangguk. “Welcome to Amman, Jordan!” aku disambut sebuah pelukan dan kalimat Bahasa Inggris yang cukup baik. Kami berjalan ke sebuah mobil. “Kau menyetir sendiri?” tanyaku. Pertanyaanku seketika terjawab saat ia membuka mobil dan nampak seorang di jok kemudi. “Ini Rayan. Ia sahabatku. Ia terobsesi pada Indonesia setelah kau mengirimkan mie instan kepadaku tahun lalu. Ia sangat bersemangat ketika kau akan datang, namun lagi-lagi sifat aslinya muncul saat ini. Ia pemalu jika bertemu orang baru. Hey, cepat kenalkan dirimu sendiri!” nada ceria Assia berubah. Aku tertawa melihat Rayan yang nampak terpojokkan. “Hi, I’m Jasmine. Don’t hesitate to ask me anything you want to know about Indonesia.” Rayan hanya membalas dengan senyuman dan mulai menginjak pedal gas. Hmm, senyumnya tidak asing.

---

Kota Amman sangatlah unik. Bentuk rumah-rumah yang kotak dan berundak membuat mataku tak lepas mengamati pemandangan ini.

Rumah-rumah di Kota Amman

“Apa yang membuat rumah di sini berbentuk kotak dan nampak berundak-undak?” spontan tanyaku tersuarakan. “Hmm..” Assia nampak berpikir cukup lama. “Boleh aku bantu menjawab?” terdengar suara dari jok kemudi. “Tentu.” jawabku antusias. “Rumah-rumah di Amman terbuat dari batu yang disusun sehingga nampak kotak. Penggunaan batu ini memang sudah dilakukan sejak masa neolitikum 8000-4500 sebelum masehi. Pembangunan Kota Amman sebagai salah satu kota tua di dunia terkena pengaruh saat itu. Kalau mengapa nampak berundak, hal ini dikarenakan kondisi Kota Amman sendiri yang merupakan bukit dan lembah. Kota Amman dikelilingi 7 gunung.”

“Kebetulan sekali kau menanyakan tentang sejarah, karena agenda kita hari ini akan mengunjungi situs sejarah Kota Amman, Amman Citadel.” lanjut Assia.

Amman Citadel!

“Hei kau irit berbicara sekali, bicaralah!” Assia membentak sahabatnya yang baru keluar dari mobil. “Rayan sangat pandai dalam urusan sejarah. Ajak saja ia berbincang, Jasmine.” Assia tersenyum ke arahku, ia sangat bisa memposisikan diri.

“Jadi apa yang bisa tempat ini ceritakan tentang masa lalu Kota Amman?” tanyaku ke Rayan. “Jadi hmm…” kata Rayan menggantung, ia nampak ragu menjelaskan. “Bicaralah, aku tidak menggigit.” Ia tersenyum lagi. “Jadi kita berada di salah satu gunung di Kota Amman bernama Jabal Al-Qala’a. Lokasi ini merupakan saksi berdirinya bangunan-bangunan dari masa Romawi, Bizantium, dan Umayyah. Namun sebenarnya situs ini sudah ada sebelum masa-masa tersebut, tepatnya sejak Zaman Perunggu. Di sini juga dijelaskan sejarah Kota Amman.” Ia menunjuk tiga buah balok di hadapan.

“Awalnya Kota Amman bernama Rabbath Ammon yang berarti Kota Kuno Kerajaan Ammonites. Ammonites adalah penghuni kerajaan pada Zaman Besi, zaman setelah Zaman Perunggu. Kemudian lokasi ini dikuasai Romawi. Pada masa Romawi, kota ini berubah nama menjadi Philadelphia yang diambil dari nama penguasa saat itu, Philadelphus. Setelah itu daerah ini dikuasai oleh Islam dan diubah namanya menjadi Amman hingga saat ini.”

“Wow kau hebat. Setelah ini tak perlu malu lagi ya!” aku tersenyum. Ia tersenyum lagi, kali ini deretan gigi putihnya nampak. Ah iya, ia mengingatkanku pada Rami Malek.

“Ayo kita berkeliling ke bangunan peninggalan masa-masa lalu!” suara Assia membuyarkan.

Kuil Hercules peninggalan Romawi

Umayyad Palace peninggalan Umayyah

“Selain bangunan bersejarah tadi, di sini juga ada museum yang berisi barang-barang bersejarah di Amman. Mau ke sana?” Assia menawarkan.

“Tentu!” jawabku antusias.

Jordan Archaeological Museum

Sekeluarnya kami dari museum, aku berhenti sejenak.

“Ada apa? Kau kelelahan?” kali ini Rayan yang berbicara.

“Tidak. Aku hanya belum benar-benar mengamati pemandangan dari atas bukit ini.”

“Kalau begitu ayo ke sisi sebelah sana. Di sana ada Amphiteater Romawi.” Assia buru-buru memimpin jalan.

“Aku belum bertanya tentang Indonesia.” Rayan malu-malu mendekatiku. “Ah iya, silakan saja.” “Memangnya bentuk rumah di Indonesia tidak seperti ini?” “Hmm, untuk rumah tradisional sendiri Indonesia memiliki puluhan jenis, tergantung masing-masing daerah karena Indonesia sangatlah luas. Terbentang puluhan ribu pulau dengan suku dan budaya yang berbeda, yang berpengaruh pada rumah tradisionalnya. Untuk penggunaan batu sesungguhnya hal yang sama, kami juga memakai batu dalam pembangunan rumah, hanya saja bentuk kotak tidak disarankan mengingat Indonesia berada di iklim tropis yang separuh tahunnya adalah musim hujan sehingga lebih baik atap berbentuk miring agar air dapat mengalir.” Rayan mengangguk.

“Berkunjunglah. Indonesia indah dengan keberagaman suku dan budayanya. Kami berbeda-beda namun kami satu.”

Tak terasa kami sampai di sisi yang menawarkan pemandangan Teater Romawi.

"Indah sekali!" aku takjub.

"Amphiteater ini masih digunakan hingga saat ini seperti untuk acara kebudayaan atau upacara olahraga." Assia menjelaskan.

Aku terdiam, masih menikmati pemandangan.

"Di mana Rayan?" suara Assia membuyarkan. Kami menoleh kanan dan kiri. Ia memang tidak ada di sekitar kami.

"Menyusahkan saja, ayo kita cari dia." Assia berjalan duluan.

Aku pun ikut meninggalkan Amphiteater Romawi dan pemandangan indah.


Comments


You Might Also Like:
About Me

Selamat Datang! I'm Jasmine. An Indonesian girl who is wishing to travel the world.

 

Join my mailing list

Search by Tags

© 2023 by Going Places. Proudly created with Wix.com

bottom of page