top of page

Dear, Paris

  • Jan 20, 2019
  • 3 min read

Paris, pertengahan musim semi 2013

Waktu menunjukkan pukul 09.00, namun sejujurnya aku mengantuk. Mungkin karena jetlag. Jelas saja, sejak pukul 3 pagi aku tidak bisa tidur, karena jam Jakarta sudah pukul 9 pagi. Namun tetap saja aku harus mulai mengikuti waktu di sini. “Maaf ya sarapannya hanya ada sereal, roti, dan telur. Tidak ada nasi kuning seperti di Jakarta.” ucap Tante Mia, ibu dari Nasa, tetanggaku dari lahir hingga ulang tahun ke-16 yang sejak empat tahun lalu diharuskan pindah ke Paris. “Iya, Tante. Terimakasih dan maaf karena merepotkan.” balasku. “Ayo berangkat!” terdengar suara Nasa yang berjalan mendekati meja makan.

---

Kurang lebih 45 menit berkendara, kendaraan mulai melaju di pusat kota. Kupandangi lekat-lekat jalanan ibukota. Nampak kendaraan roda empat berbaris.

“Iya, di sini juga ada macet. Kalau peak hour terutama.” jelas Nasa seperti membaca pikiranku. “Diem aja sih dari semalem. Sakit gigi? Masih ngantuk? Masih laper? Atau masih kesal karena semalam harus nunggu dua jam karena aku terlambat menjemput?” cecarnya. “Diem deh, bawel.” jawabku sekenanya. “Kalau ngambek di Jakarta aja. Tuh lihat kiri biar gak ngambek.” Kutolehkan kepala ke kiri. Dan benar saja, pemandangan yang kuidam-idamkan nampak nyata.

“EIFFEL!” tak sadar aku berteriak. “Liat gini langsung girang. Itu baru pucuknya doang. Kenapa sih cewek suka banget Paris dan La Tour Eiffel.” protesnya. “Dasar cowok gak romantis.” “Iya aku memang gak romantis.” balasnya. “btw, ini kemana sih?” tanyaku. “Ke tempat paling gak romantis di Paris.” jawabnya.

Jalanan Kota Paris sangat menarik: bangunan-bangunan klasik; lingkungan yang bersih dan rapi; toko-toko kecil pinggir jalan, memberikan kekaguman tersendiri bagi sepasang mataku yang baru melihatnya.

Kami berputar-putar kota hampir seharian. “Ini mau kemana sih?” tanyaku mulai tidak sabar. “Hahaha, santai dong, Tuan Puteri. Belum juga sehari udah bosen di Paris?” godanya. “Ya bukan gitu, tapi ini keliling terus, gak jelas.” “Oh, mau yang jelas-jelas.” liriknya menggoda.

---

Hari cukup sore hingga akhirnya mobil Nasa terparkir. “Turun di sini?” tanyaku. “Gak. Di sini aja sampai kehabisan napas. Ya turun lah. Ayo!” jawab Nasa. “Ini Sungai Siene bukan?” tanyaku lagi. “Iya, gak romantis kan ke pinggir sungai?” jawab Nasa. Kulangkahkan kaki mengikuti Nasa ke sebuah dermaga kecil. “Nih.” Nasa memberikan sesuatu.

“Tiket. Jangan sampai hilang.” lanjutnya. “Bateaux Mouches?” ejaku. “Bacanya Batomus. Kita naik kapal itu menyusuri Sungai Siene.” Aku diam dan tersenyum. Nasa masih sama.

Kapal mulai bergerak menjauhi dermaga. Kupandangi bangunan kuno di kanan dan kiri Sungai Siene.

‘Oh, begini Kota Paris dari Sungai Siene.’

“Itu Katedral Notre Dame.” Nasa menunjuk suatu bangunan yang nampak kuno dan besar.

“Katedral itu salah satu bangunan bersejarah di Paris. Bangunan ini sudah ada sejak abad ke-14, Middle Ages, meskipun dibangunnya dari abad ke-12, dibangun dengan gaya arsitektur Gotik.” jelas Nasa. “Dulu pernah hancur ketika Revolusi Prancis yang kemudian direstorasi.” Lanjutnya. “Sekarang masih digunakan untuk ibadah?” tanyaku. “Masih. Sekarang digunakan untuk tempat ibadah dan tempat wisata.” jawab Nasa. Aku terdiam mengagumi Nasa yang masih sama cerdasnya. “Gila, aku pinter banget ya!” teriak Nasa membuyarkan kekagumanku.

Samar-samar di kejauhan nampak bangunan yang tinggi menjulang.

“Sa, Eiffel, Sa!!!” Aku mulai berteriak. “Tahan dulu, teriakanmu untuk yang nanti saja.” kata Nasa.

“Nah sekarang baru boleh teriak.” ucap Nasa. Lidahku kelu. Sudah tak ada kata lagi yang sanggup kukeluarkan. Aku takjub melihat menara favoritku ada di depan mataku. Sebesar itu.

“Eh itu nama-nama orang ya?” tanyaku menunjuk balok persegi panjang di keempat sisi Menara Eiffel. “Baru tahu ada nama-nama yang diukir di Menara Eiffel.” lanjutku. “Iya, ada 72 nama yang diukir di sana. Itu nama-nama ilmuwan, penemu, orang-orang hebat lah intinya.” “Wah, keren.” “Iya, nanti namaku ada di situ juga.” lanjutnya dengan cengiran usil.

“Itu komedi putar?” aku menunjuk sebuah mainan berbentuk lingkaran lengkap dengan kuda-kuda.

“Iya itu Eiffel Tower Carousel. Paris terkenal dengan banyaknya komedi putar. Jadi tentu akan sangat menarik ketika dua ikon Kota Paris disatukan dalam sebuah foto. Mungkin itu yang membuat dibangun komedi putar dekat La Tour Eiffel.” terang Nasa.

---

“Udah? Seneng?” tanya Nasa kepadaku sembari melangkah ke dermaga. “Udah, seneng. banget.” Jawabku sambil tersenyum ke arahnya. “Lebih seneng kalau ke komedi putar yang tadi.” pintaku. “Wah kalau itu susah sih, kan perjalanan ke rumah jauh. Besok aja ya.” jawab Nasa, kali ini tanpa omelan. Musim semi membuat malam datang agak terlambat. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.00 tapi matahari baru nampak bersiap-siap pulang. Baiklah, kali ini kuturuti Nasa, si tukang omel baik hati.

Mobil Nasa kembali melaju. Namun kali ini ke arah yang jelas, ke rumahnya. Sungguh indah Kota Paris, dan tentunya sungguh indah hari ini. Tak terasa ada tarikan di bibirku yang kusunggingkan dalam diam menemani perjalanan pulang. Bonne nuit, Paris!


Comments


You Might Also Like:
About Me

Selamat Datang! I'm Jasmine. An Indonesian girl who is wishing to travel the world.

 

Join my mailing list

Search by Tags

© 2023 by Going Places. Proudly created with Wix.com

bottom of page