top of page

Dear, Bintan

  • Feb 3, 2019
  • 5 min read

Pertengahan Juli 2016

Depan ATM Center Terminal 1B, kuedarkan pandangan ke sekitar. “Jasmine!” kupalingkan wajahku ke sumber suara. “Sorry, tadi kita ke minimarket dulu, beli air dan roti.” Vindra menjelaskan dengan napas sedikit tersengal akibat berlari. “Hai, Jasmine!” suara ramah Rino, kakak Vindra, terdengar. “Hai, Rino. Hai, Adrian.” sapaku ke seseorang di belakang Rino. Ia hanya memberikan senyuman sekilas sebagai balasan, persis seperti ketika aku pertama kali bertemu dengannya, tiga hari yang lalu untuk membahas perjalanan ini. “Yuk, sudah semua kan?” tanya Vindra yang dibalas dengan anggukan kami bertiga.

----

Langkah kami keluar Bandara Raja Haji Fisabilillah disambut seorang lelaki paruh baya dengan tulisan ‘Selamat datang di Pulau Bintan, Ibu Vindra’ di tangan. “Saya Aban.” Ia memperkenalkan diri. “Lokasi resort ada di utara Pulau Bintan dinamakan Kawasan Wisata Lagoi Bay. Kawasan ini menghadap Laut Cina Selatan dan berseberangan dengan Singapura dan Malaysia, oleh itu banyak turis mancanegara. Kawasan ini hasil kerjasama Indonesia-Singapura sejak tahun 1990, tapi mulai dilakukan pembangunan dan berkembang sejak tahun 2007.” penjelasan Pak Aban mengawali perjalanan di Pulau Bintan.

Dua jam berlalu ketika mobil terparkir di depan resort. Vindra berlari kecil ke arah meja resepsionis; Rino dan Adrian menurunkan barang. Kulirik jam di tangan, pukul 15.00. “Yuk, ke kamar.” ajakan Vindra membuatku mengangkat kepala dan mengangguk kepadanya. Kami berjalan menyusuri lorong lantai 2 dan berhenti di depan kamar 209. Namun tidak ada satupun dari kami yang berniat menghadapkan diri untuk masuk kamar, justru kami menghadap arah sebaliknya.

“Wah, itu pantainya!” Vindra berdecak kagum.

“Buruan istirahat, jam 5 di pantai ya!” suara Rino membuyarkan ketakjuban kami. Kutolehkan kepala ke arah Rino. Kubalasnya dengan senyuman dan jari yang membentuk tanda OK. Rino berbalik badan ke arah kamar. Terlihat senyum manisnya membalas senyumanku meski hanya sekilas.

---

Semburat jingga sudah mulai tak nampak ketika kakiku menginjak pasir pantai. “Sepertinya kita terlambat.” ucapku ke Vindra. Vindra tertawa, “Kita ketiduran sih.” “Vindra, Jasmine!” teriak Adrian dari kejauhan. Terlihat dua sahabat itu sedang menyepak air.

“Kalian terlambat! Kalian harus dihukum!” Rino membawa ember, yang entah muncul dari mana, penuh dengan air laut. Kami berlari menghindari guyuran namun akhirnya kami takluk juga. “Sudah cukup, ini melelahkan. Nikmati saja pemandangan ini.” kamipun duduk menemani mentari yang berjalan pulang ke peraduan.

Detik terus berjalan menuju hari esok namun aku dengan sengaja tidak segera tidur. Tentunya untuk bertemu langit malam. Aku dan langit malam adalah teman, dan saat ini aku berada di pantai, media yang tepat untuk menghubungkanku dengan bintang-bintang.

Kugunakan penerangan telepon genggam untuk menuntunku ke hamparan pasir. Kupandangi sekitar.

Sepi dan tenang. Sempurna. Sesuatu yang benar-benar kucari. Kupandangi langit di atas, summer triangle terlihat jelas. Kunikmati bentangan titik bercahaya di atas kepalaku hingga setitik cahaya di sudut mataku mengusik. Seseorang mendekat dengan penerangan seadanya di tangannya.

“Rino?” wajahnya terlihat samar hasil penerangan lampu yang minim. Ia semakin mendekat. “Bukan,” suara Adrian terdengar. “Susah tidur. Rino berisik. Dengkurannya keras sekali.” jelasnya dengan singkat dan padat.

“Kemarilah!” aku mengundangnya untuk duduk di sampingku. “Aku suka melihat langit malam. Minggu-minggu ini seharusnya saatnya hujan meteor Delta Aquariid. Hampir setiap bulan sebenarnya ada hujan meteor.” aku berbicara panjang tanpa sadar. “Hmm” jawab Adrian sekenanya. “Iya, dan itu yang cukup terang dan berkelip, itu Vega. Bersama dengan dua bintang yang cukup terang di sekitarnya, Altair dan Deneb, membentuk segitiga yang disebut summer triangle.” “Oh ya, itu Jupiter. Cara membedakan planet dan bintang adalah dari pendarnya. Bintang akan berkelip sedangkan planet tidak. Hal itu dikarenakan jarak bintang yang sangat jauh dari bumi membuatnya berbentuk titik cahaya dan titik cahaya itu akan terkena turbulensi ketika memasuki atmosfer.”

Tak ada respon dari sampingku. Aku menoleh. Kudapati dirinya dengan telinga tersumbat earphone. Ia menoleh ke arahku. “Mau ikut dengar?” “Boleh” diberikannya salah satu earphone dan kuselipkan di telinga.

Terdalam yang pernah kurasa

Suara Glenn Fredly dalam Kasih Putih mengalun dengan indah. “Aku suka mendengar lagu ini di pantai. Coba saja dengarkan alunannya, seirama dengan hembusan angin dan lambaian nyiur. Mungkin setelah ini kau akan suka mendengar lagu ini di pantai.”

Biarkanlah kurasakan hangatnya sentuhan kasihmu

Bawa daku penuhiku berilah diriku kasih putih di hatiku

Kutemukan arti hidupku, denganmu

Hmm, sepertinya to do list ku ketika di pantai akan bertambah.

----

“Apa agenda siang ini?” tanyaku dengan mulut cukup penuh. Bermain air hingga tengah hari cukup menguras energi kami, sehingga saat ini mulut kami tak berhenti mengunyah. “Kemarin petugas resepsionis sempat menyebutkan daerah yang agak tinggi sehingga kita dapat melihat pantai dari ketinggian.” Rino membalas. “Ayo ke sana!” Vindra bersemangat. “Tapi naik apa…”

----

“Sepertinya bukan ke arah situ! Aku lelah mengayuh!” omelan Vindra membuat kami tertawa. “Ini titik tertinggi, pasti ke arah sini.” jawabku. Dan benar saja, tak butuh waktu lama kami menemukannya.

“Wah cantik sekali!” suara Vindra menggema.

Aku terdiam, takjub akan pemandangan yang ada di depanku. “Melihat pantai dari atas cantik sekali.” Rino sependapat dengan adiknya. “Rino, fotografer andalan keluarga, sini fotoin dong.” pinta Vindra sambil berjalan ke lokasi yang memiliki sudut lebih apik.

“Bagus.” suara Adrian terdengar di samping kiriku. “Iya, indah sekali.” balasku tanpa menoleh ke arahnya. “Jasmine,” “ya?” jawabku dengan tetap memandang pantai di depan. “Besok ketika kita sudah kembali ke Jakarta, apakah kita kembali seperti orang asing sebelum kemari?” Kutolehkan wajah ke arahnya, “Tentu saja tidak, mengapa berpikir seperti itu?” jawabku. Ia menghembuskan napas panjang. “Baguslah, karena aku masih ingin tahu lebih banyak tentangmu.” jawabnya sambil masih menatap ke depan. “Aku ingin hari-hariku nanti diisi dengan melihat wajah berseri dan nada suara yang sangat antusias, seperti sedang menjelaskan tentang bintang semalam. Boleh?” Aku terdiam. “Yuk, kita lihat sunset di resto dermaga!” teriakan Vindra menyelamatkanku.

----

“Wih keren nih tempat.” Vindra berlari antusias sambil menarik tanganku menyusuri dermaga. Kami berhenti di salah satu meja. “Duduk di sini ya.” Vindra mengajakku duduk di sampingnya, menghadap lembayung yang mulai bersembunyi.

Aku hanya mengikut. Pertanyaan Adrian yang masih menggantung mengganggu pikiranku. Hingga akhirnya kami berempat duduk. Aku melirik Adrian. Ia masih membaca buku menu.

“Selamat datang untuk para tamu, selamat menikmati matahari terbenam. Meskipun bukan di Bali, namun izinkan kami mengalunkan tembang ‘Lembayung Bali’.” Musisi kafe mulai memainkan intro sebuah lagu. Lagu ini salah satu lagu yang personal untukku. Lagu tentang kenangan dan teman.

Ah, aku mengerti.

“Pemandangan yang sungguh indah ya.” Aku memulai percakapan sambil menatap mentari. “Iya, indah sekali.” Vindra menanggapi. “Apalagi ketika pemandangan ini disaksikan bersama…teman.” Aku menyandarkan badan ke kursi sambil menatap seseorang di hadapanku. Adrian menyadari tatapanku hingga ia mengangkat kepala. Kami berpandangan diam. “Iya, sangat indah menghabiskan senja bersama…teman.” rautnya berubah, seakan paham. “Tapi izinkan aku berusaha dan mencoba, Ok? Teman?” Ia tersenyum. Aku menghembuskan napas dan ikut tersenyum.

Menatap lembayung di langit Bali

dan kusadari betapa berharga kenanganmu

Di kala jiwaku tak terbatas

bebas berandai mengulang waktu

Hingga masih bisa kuraih dirimu

sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf

masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu

oh cinta

Teman yang terhanyut arus waktu

mekar mendewasa

masih kusimpan suara tawa kita

kembalilah sahabat lawasku

semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian

sosok yang mengaliri cawan hidupku

Bilakah kita menangis bersama

tegar melawan tempaan semangatmu itu

oh jingga

Hingga masih bisa kujangkau cahaya

senyum yang menyalakan hasrat diriku

Bilakah kuhentikan pasir waktu

tak terbangun dari khayal keajaiban ini

oh mimpi

Andai ada satu cara

tuk kembali menatap agung surya-Mu

Lembayung Bali


Comments


You Might Also Like:
About Me

Selamat Datang! I'm Jasmine. An Indonesian girl who is wishing to travel the world.

 

Join my mailing list

Search by Tags

© 2023 by Going Places. Proudly created with Wix.com

bottom of page