Dear,....
- Feb 17, 2019
- 3 min read
‘Dek di mana?’
‘Di jalan, bu.’
‘Cepet pulang, ibu ngantuk mau ngunci pintu.’
‘Si……ap’
Sambungan terputus ketika sebuah kataku bahkan belum terucap sempurna. Ciri khas ibu ketika mencari anaknya.
Sekarang pukul 22.00 dan aku masih falling in love with people I can’t have.
Oh bukan, ulangi.
Sekarang pukul 22.00 dan aku masih duduk terguncang di jok ojek online. Mood dosen pembimbing yang berubah drastis pagi ini memaksaku merombak semuanya. Draft sidang akhirku sudah masuk beberapa hari lalu, namun pagiku dikejutkan oleh panggilan dadakan ‘Silakan sidang namun saya tidak menjamin kelulusan anda’ katanya.
Tak sampai 10 menit, diriku sudah berdiri di depan rumah. Namun, sepertinya Tuhan sedang asyik memberi kejutan padaku hari ini. Malamku kembali dikejutkan oleh terkuncinya pintu rumah. “Buuuu…” teriakku lemah sambil mengetuk pintu, meski tahu usahaku pasti tidak membuahkan hasil. Bagaimana tidak, ibuku suka tertidur dengan menyantolkan earphone di telinga, mendengarkan lagu dangdut kesukaannya.
“Permisi!” aku dikejutkan oleh seseorang di depan pagar, sesosok berseragam pos. “Ada surat untuk Bu Jasmine.” katanya sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat. Senyumnya lebar. Dengan ragu kuambil surat dari tangannya. Kutatap lekat kedua hal janggal di depanku. Kubuka perlahan. Terdapat beberapa lembar dan kubaca lembar pertama.

“HAH, APA NIH?” spontan aku mendongak, hendak meminta penjelasan kepada pak pos di hadapan. Nihil. Ia menyublim dengan cepat. “Hogwarts? Ternyata jawaban dari lelahku selama ini adalah HOGWARTS?” kejut-bingung-semangatku disambut kehadiran sebuah mobil berwarna biru muda yang menyambarku dengan cepat. Aku masuk ke dalamnya, dan mobil ini terbang! dan aku lupa menutup pagar! Ibu pasti marah.
Mobil terbang tak terkendali hingga dalam hitungan detik. BRAK!

“Sempurna!” ucap seseorang di sampingku. Hah! Bagaimana aku bisa keluar mobil? Apa yang ia maksud dengan sempurna? Tunggu apa ia RON WEASLEY?! “Ayo cepat kita harus segera ke Hogsmeade.” ucap Ron sambil berlari di depanku. Hogsmeade, aku berusaha mengingat. Pasti desa tempat membeli kebutuhan penyihir seperti tongkat, buku, dan hidung palsu.
Setelah lama berlari, akhirnya kami sampai di gerbang menuju Hogsmeade.

Aku kembali mengatur napas. Tunggu, mengapa harus lelah berlari jika bisa memindahkan diri?.... Namun tanyaku tadi tak penting lagi setelah melihat Hogsmeade di depan mata, karena tanyaku jadi makin banyak!


Apakah ini musim dingin?
Kalau tidak, mengapa bersalju?
Kalau iya, mengapa aku tidak kedinginan hanya dengan baju kampusku?!
Apakah aku memang penyihir?!! Bagaimana bisa aku seorang penyihir?!!!
Mengapa bintang bersinar? Mengapa air mengalir? Mengapa dunia berputar?!!! (jangan nyanyi)


“Ayo masuk!” suara Hermione terdengar. Tunggu, Hermoine?! Bagaimana bisa? Di mana Ron? Sepertinya aku belum terbiasa dengan dunia sihir ini. Hermoine mengajakku masuk ke sebuah toko dengan etalase penuh tongkat sihir.

Ollivander, tempat penyihir mendapatkan tongkatnya. Toko ini ramai dengan anak-anak lain yang sepertinya juga baru diundang. Kutelusuri toko dan kulihat tongkat-tongkat fenomenal milik golden trio: Harry Potter, Hermione Granger, dan Ron Weasley.

“Hai, Jasmine. Ini tongkatmu.” Harry memberikan sebuah tongkat padaku. Tunggu, Harry?! Ia menghilang. Tongkat sudah di tangan, apalagi yang kubutuhkan?
Kususuri Hogsmeade dan kutemukan sebuat etalase yang menjawab pertanyaanku. Semua perlengkapan penyihir ada di sana. Sepertinya aku bisa membuat daftar dengan melihat barang yang terpasang.

Kurogoh seluruh kantong namun yang kutemukan hanya kenangan. “Butuh pena dan kertas?” Ron menawarkan. Ah, dia muncul lagi. “Terimakasih!” ucapku. “Tapi kita tidak bisa terus di sini. Anak-anak lain sudah bergerak ke Hogwarts.” lagi-lagi Ron berlari di depanku.
Kali ini tak butuh waktu lama untuk mencapai tujuan. Sekolah baruku ada di sana!

Pandanganku tak henti-hentinya menatap Hogwarts, hingga terdengar sebuah teriakan “Awas, Bludger!” Kutolehkan pandangan ke kanan. Kulihat bola sihir besar tersebut terbang membabi buta, melaju ke arahku. Bodohnya, aku mendadak menjadi aktris sinetron yang hendak tertabrak, memilih memejamkan mata dan tak bergerak. Benar saja…
BUG!
Sesuatu menimpa kepalaku, namun aku masih sadar! Hebat benar dunia sihir ini.
Kubuka mata. Kulihat sosok di depanku, membawa bulatan yang terlihat besar.
“Ibu?!” kulihat ibuku membawa bola, oh bukan, tepatnya bantal berbentuk bola, di depan pintu rumah.
“Kau tak bangun-bangun maka kulempar kau dengan bantal ini.” ucapnya.
“Cepat masuk. Ibu terbangun dan ingat kau pasti di luar. Ini kunci. Tutup sendiri.” Ibuku kembali masuk rumah dengan earphone terseret, keluar dari saku dasternya.
Aku masih hilang arah. Kucari lembaran yang dapat meyakinkan apa yang terjadi. Namun, tak ada. Tak ada apapun di sana. Kuhembuskan napas panjang. Baiklah, besok kita mulai lagi.
“Mencari ini?” seseorang dari depan pagar mengangkat sebuah amplop coklat.
“HAH?!”




Comments