top of page

Dear, Lisse

  • Mar 3, 2019
  • 3 min read

“Udah semua kan?” tanya Nasa diikuti bunyi bagasi mobil yang ditutup. Aku mengangguk, kemudian masuk ke mobil. “Hati-hati ya kalian. Jangan berantem. Nanti nggak ada yang melerai seperti waktu kalian kecil.” Tante Mia ikut berada di carport meski jam masih menunjukkan pukul 05.55. Nasa tertawa, “Nggak perlu ada yang melerai selama nggak ada yang teriak-teriak menarik perhatian.” Nasa melirik ke arahku. “Iya, Tante. Nanti mulut Nasa saya sumpel aja biar tidak membuat orang lain teriak-teriak menarik perhatian.” jawabku sambil menjulurkan lidah ke Nasa. “Berangkat dulu, Ma.” Mobil bergerak keluar rumah.

“Perjalanan ke Lisse berapa lama?” tanyaku ketika mobil mulai melaju di jalan tol. “Kurang lebih 5 jam. Nanti kita lewat Belgia terus sampai deh di Belanda. Di Belanda nanti lewat Rotterdam tapi kita masih ke Utara untuk sampai di Lisse.” Jelas Nasa.

Perjalanan panjang membuatku bosan. Hal yang kulakukan hanya tidur-bangun-bercakap dengan Nasa-tidur-bangun-mendengarkan lagu sambil bernyanyi-bercakap dengan Nasa. “Itu perdesaan ya?” tanyaku memandang sisi jalan tol.

“Sepertinya begitu.” Jawab Nasa, masih fokus ke jalan.

Kendaraan terparkir di Keukenhof Garden ketika jam menunjukkan pukul 11.30. “Sudah sampai!” Nasa terlihat senang. “Asyik, ayo turun!” ajakku. Nasa masih diam di kursi kemudi, kemudian memejamkan matanya “Aku senang karena akhirnya aku bisa istirahat sejenak, bukan karena akan turun menikmati bunga tulip.” Jawabnya sambil masih memejamkan mata. Aku hendak mengguncang tubuh Nasa ketika ia terpaksa membuka mata karena ponselnya berbunyi. “Ayo turun, temanku sudah menunggu di depan loket tiket.” “Temanmu?!”

“Nasa!” terlihat sesosok wanita bertubuh tinggi langsing dengan rambut coklat yang dibiarkan jatuh sedikit di bawah bahu. “Hi, Sophie!” Nasa menyambut jabat tangan wanita itu dan saling menempelkan pipi keduanya! Tiga kali, pipi kanan-pipi kiri-pipi kanan. Aku terkejut. Tak terasa pipiku memanas di tengah suhu 15 derajat celcius. “This is Jasmine.” Nasa mengenalkanku padanya. Tangan wanita itu mengambang di udara dan kujabat. “Let’s go!” Sophie mengajak kami masuk.

Keukenhof Garden, tempat diselenggarakannya festival bunga tulip tahunan di Belanda, sangatlah cantik. Dapat kulihat pelbagai jenis bunga mekar di seluruh area taman, meski pohon-pohon belum lebat sempurna. Kupandang pemandangan kanan dan kiri.

Namun sejujurnya, pandanganku tak lepas dari dua sosok di depanku. Sesekali kulihat mereka tertawa, mengabaikanku yang dianggap fana. Kupercepat langkah untuk menyusul Nasa dan Sophie, hingga langkahku sudah cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.

“Sophie, adakah toko yang menjual bibit tulip di tempat ini? Aku ingin menanamnya di rumah namun tidak ingin mengimpor bibit dari negara aslinya, Turki, hahaha”

“Hahaha, hmm aku belum pernah tahu, biar kucarikan terlebih dahulu, Nasa.”

Aku mendapat ide. Aku harus mendapat informasi tentang toko yang menjual bibit tulip lebih cepat dibanding Sophie.

Kuedarkan pandangan dan kulihat sebuah rumah kaca tak jauh dari tempatu berdiri. Rumah kaca. Tanaman. Tulip! Tanpa pikir panjang, kumulai langkahku menuju rumah kaca tersebut. Tidak melenceng dari ekspektasiku, aku mendapatkan bunga tulip. Seperti permadani.

Kulihat sekeliling, yang dapat kulihat masih hanya bunga tulip.

Sepuluh menit kukelilingi rumah kaca ini dan nihil, aku tidak mendapatkan apapun. Yang kudapatkan justru kesadaranku, bahwa aku sendirian dan tak tahu di mana. Aku mulai panik. Kurogoh ponsel di tas. ‘20 missed calls’ tertulis di layar. Kuhubungi kembali nomor tersebut.

“Halo, Sa. Ak…”

“Di mana kamu?!”

“Entah. Rumah kaca.”

Panggilan terputus.

Aku keluar rumah kaca dengan gontai. “Jasmine!” suara perempuan membuatku menoleh. Sosok Sophie berlari kecil ke arahku, Nasa membuntutinya di belakang dengan langkah pelan. “Mood­ku tidak bagus. Kita pulang saja. Lagipula kau pasti sudah puas berkeliling kan.” ucap Nasa kepadaku.

Kami berjalan ke arah mobil dalam diam. Hanya terdengar kata ‘See you’ yang diucapkan Nasa ke Sophie ketika wanita itu hendak kembali ke mobilnya.

“Mengapa memaksakan diri untuk berkeliling sendiri sih? Kamu di negeri orang, bagaimana kalau hilang?” Nasa akhirnya membuka pembicaraan setelah 20 menit berkendara.

“Maaf…”ucapku menyesal meski ada desir halus bahwa Nasa peduli. Tiba-tiba sosok Sophie terngiang kembali “Tapi siapa suruh berdua terus sama bule itu, aku bertanya di mana toilet tapi kalian mengabaikan pertanyaanku.” Aku sedikit berbohong. “Untuk apa pula cium pipi kanan kiri tadi?” kegusaranku akhirnya tersampaikan.

Nasa tertawa. Aku bingung. “Itu adalah salam orang Belanda untuk kerabat atau teman dekat mereka. Sophie adalah salah satu teman dekatku di uni jadi hal itu adalah hal yang wajar. Belajarlah menerima perbedaan budaya, Nona Jasmine. Lagipula kalau bukan karena Sophie, siapa yang akan menampung homeless seperti kita ini. Berbaiksangkalah pada orang.”

“Kalau kita ke rumah Sophie, mengapa kita berpencar dengannya tadi?”

“Kau ke sini ingin jalan-jalan kan? Kita sudah sampai, ayo turun.”

Kejutan yang lain. Sangat khas Nasa.

Aku mengikuti langkah Nasa. Nampak perairan di sisi kiri dan bangunan kecil nan indah berjajar di sisi kanan.

“Ini Volendam, desa nelayan. Rumah berderet ini adalah rumah-rumah nelayan.”

“Wah cantik ya. Bagaimana bisa rumah nelayan seperti ini.”

“Sudah senang?” tanya Nasa. Aku tersenyum.

“OK, kalau begitu ayo pulang. Misiku sudah selesai membuat hatimu kembali senang. Aku ingin tidur. Besok saja ke sini lagi” Aku menatap punggung Nasa yang kembali ke arah mobil terparkir.


Comments


You Might Also Like:
About Me

Selamat Datang! I'm Jasmine. An Indonesian girl who is wishing to travel the world.

 

Join my mailing list

Search by Tags

© 2023 by Going Places. Proudly created with Wix.com

bottom of page