top of page

Seribu Lima Ratus Dua Puluh Enam Hari di Suatu Kota

  • Mar 17, 2019
  • 2 min read

Sejak kecil aku memiliki harapan untuk mengunjungi ‘sebuah kota’. Sesederhana mengunjunginya. Pikirku sekadar berdiri dan menginjak tanahnya pun tak masalah, yang penting sudah pernah, sebuah pemikiran anak berseragam putih merah.

Impianku ini memang tidak muncul begitu saja. Aku berasal dari keluarga yang nomaden karena pekerjaan ayahku. Hal itu memaksaku berkewajiban mengikuti kemana ayah melangkah ke beberapa kota besar, kecuali kota ini. Mungkin itulah yang menumbuhkan rasa penasaranku terhadapnya, seperti melambaikan tangan untuk kusambangi.

Impianku untuk “sekadar” mengunjungi kota ini sepertinya tidak diartikan main-main oleh Tuhan. Lima tahun sejak terucap rengekan itu, aku diamanatkan olehNya bukan hanya untuk mengunjunginya, namun untuk menyatu di dalamnya: menghirup udaranya, menginjak tanahnya, mengunyah makanannya, dan mengucap bahasanya. Namun ada hal yang lebih penting dari menyatu di dalamnya, ia menyatu di dalamku.

Ada suatu hal yang ditanamkan oleh kota ini padaku.

Di kota ini, aku diizinkan mengenal bentuk kerja keras. Peluh berderai untuk diperas, meski kadang tak sebanding untuk membeli beras.

Di kota ini aku menjadi saksi, kadang hidup bukan tentang memilih. Kalaupun dapat memilih, hal tersebut menjadi lebih rumit. Memilih diam dan terbawa arus, atau memilih jalan sendiri meski tak tahu siapa yang menaungi.

Di kota ini aku melintas turunan dan tanjakan. Untungnya ada sosok di kiri dan kanan, yang dengan bangga kusebut kawan.

Di kota ini tak jarang aku terjatuh, namun bukan untuk mengeluh.

Di kota ini aku merasa putus, namun untuk bangkit merajut kembali, juga pupus untuk berusaha mewujudkannya lagi.

Di kota ini, aku menapaki jalan, menerobos hutan, menaklukan rintangan demi suatu tujuan.

Meski tujuan itu membuatku meninggalkanmu. Memaksaku menyadari konsekuensi dari suatu pilihan, termasuk menyadari pergi adalah konsekuensi datang, dan berpisah adalah konsekuensi bertemu.

Sudah beberapa waktu sejak akhirnya kutinggalkan dirimu. Meski takkan jua kulupa untuk kembali kepadamu. Kota yang tersimpan rapi dalam kalbu, yang tak terpikir kan kusebut kau rumah baruku.

Sampai jumpa dan terimakasih, Bandung!


Comments


You Might Also Like:
About Me

Selamat Datang! I'm Jasmine. An Indonesian girl who is wishing to travel the world.

 

Join my mailing list

Search by Tags

© 2023 by Going Places. Proudly created with Wix.com

bottom of page