Hong Kong
- May 19, 2019
- 5 min read
Langkah kakiku terhenti dan kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kucari tempat duduk yang nyaman di ruang tunggu Pelabuhan Taipa, Macau. Dapat! Pandanganku jatuh di sebuah kursi kosong di samping jendela menghadap laut. Kulangkahkan kaki ke kursi tersebut dan menjatuhkan diri dengan perlahan. Kubuka coretan pena John Lanchester berjudul Fragrant Harbour, bercerita tentang sebuah “kota” yang akan kusambangi dalam beberapa jam lagi, Hong Kong.
---

Mataku cukup panas hingga kuputuskan untuk memindahkan pandangan ke laut. Kucari pembatas buku, yang seharusnya ada di lipatan buku. “Looking for this?” suara seseorang di depanku membuatku mengangkat kepala. Seorang pemuda ras Mongoloid-Tiongkok sebayaku memegang pembatas buku milikku. “Barang ini terjatuh ketika kau membuka bukumu tadi. Itu Lanchester ya? Aku juga membacanya. Awalnya aku ingin menyapamu karena buku yang kau bawa, tapi kuurungkan. Namun sepertinya semesta berpihak padaku sehingga bisa berbincang denganmu meski melalui pembatas buku ini.” Senyumnya mengembang, matanya mengecil.
“Ah iya, aku tertarik mempelajari budaya negara lain.”
“Untuk apa kau ke sana?”
“Hmm, bersenang-senang, hmm sebenarnya bekerja. Pekerjaanku menyenangkan karena harus berputar mengelilingi satu tempat ke tempat lainnya.”
“Bagus! Kalau begitu aku antar berkeliling sesampainya di Hong Kong. Tenang, kau bisa percaya padaku. Ngomong-ngomong, kau punya pulpen?”
Kukernyitkan dahi, mengapa tiba-tiba ia ingin meminjam pulpen. “Hmm, sepertinya ada.”
“Kalau kau punya pulpen, tentu kau punya nama kan?” raut mukanya berubah, seakan sedang memenangkan sesuatu.
“Oh iya, tentu. Jasmine.”
“Aku Wei. Aku bersungguh-sungguh akan membawamu keliling dengan aman. Aku sudah mengenal Hong Kong jauh sebelum mengenalmu.”
---
Waktu tempuh sejam dari Macau-Hong Kong tak terasa akibat kemunculan "teman" baruku. Meski sesekali obrolan kami terhenti dan pemandangan laut menjadi kawanku berinteraksi.

“Mengapa kau meliput Hong Kong?” suaranya membuatku menoleh ke arahnya lagi, yang baru saja beberapa detik memandang laut di luar sana.
“Hmm, sebenarnya tidak ada agenda khusus. Kemarin aku meliput parade di Macau, jadi mengapa tidak sekalian mendatangi tetangganya dan mencari sesuatu yang menarik. Sebenarnya tidak ada target tertentu, hanya ingin eksplor saja, terlebih bagi newcomer sepertiku.”
“Berjiwa petualang, aku suka.” Ia tersenyum.
---
“Percepat langkahmu nona” punggungnya lambat laun menjauh. Kulihat ia menaiki tangga ke sebuah jembatan. Aku terdiam sejenak, berpikir apakah pilihan yang tepat untuk mengikutinya. Ia sosok yang terlalu usil untuk ukuran teman baru. Ia hanya menjawab “tunggu saja nanti, kau pasti akan terkejut, namun kumohon tetap percaya padaku” tiap kali aku tanya ke mana ia akan membawaku sesampainya di Hong Kong.
Seperti dapat membaca pikiranku, ia menoleh “Kau ragu ikut denganku? Aku tidak akan berbuat jahat padamu, percayalah. Pemandangan di atas akan sangat indah.”
Akhirnya aku takluk dan ikut menaiki jembatan tersebut. Untungnya ia benar.

“Menarik bukan berada di atas jalan seperti ini? Percayalah padaku bahwa aku akan mengajakmu berkeliling dalam keadaan baik-baik saja.” terlihat senyum bangganya muncul. Baiklah, sepertinya aku mulai mempercayainya penuh. Kuikuti langkahnya dari belakang hingga ia berhenti di suatu titik. “Ini dia pemandangan Hong Kong dari tepi laut!”
Kupercepat langkah untuk kulongokkan kepala mengikutinya, namun yang kudapati justru sidewalk yang sedang diperbaiki.

“Hahahahahahahaha, gotcha!” Ia tertawa keras. Bingung dan kesal kuyakin tercermin di wajahku. “Kau lucu dengan wajah bingung seperti itu.” Kembali kudatarkan wajahku. “Sidewalk yang sedang diperbaiki itu Avenue of Stars. Tentu kau pernah dengar kan? Tempat penghormatan untuk aktor dan aktris yang mengembangkan industri film Hong Kong. Ada cap telapak tangan mereka di sana. Tempat wisata ini cukup mainstream, maka dari itu aku tidak membawamu ke bawah, ya selain karena direnovasi, hahahaha.”
“Jadi kau sudah tahu bahwa Avenue of Stars sedang diperbaiki?”
“Tentu saja, kan sudah kubilang aku mengenal Hong Kong jauh sebelum mengenalmu. Namun sesungguhnya yang ingin aku tunjukkan adalah pemandangan Hong Kong dari tepi lautnya.”

“Hong Kong adalah kota dengan jumlah pencakar langit terbanyak di dunia.”
“Gedung tertinggi di Hong Kong yang mana?”
“Dari sisi ini kita tidak dapat melihatnya dengan baik, lebih baik kita ke sana.” Tanpa aba-aba Wei berjalan cepat ke sisi lain dari jembatan tersebut.

“Itu gedung tertinggi di Hongkong, International Commerce Center, setinggi 484 meter, memiliki 118 lantai.” Aku mengangguk pelan.
Baru beberapa detik mengamati pemandangan, sosok Wei bergerak menjauhiku sambil setengah berteriak “Ayo ikut aku ke tempat selanjutnya!”
---
“Kita naik tram dari sini ke tujuan kita selanjutnya.” ucap Wei sesampainya di suatu tempat yang sangat amat ramai dengan turis. Tubuhku yang kecil membuatku sedikit khawatir akan terdesak puluhan turis dari berbagai negara yang memiliki tubuh tinggi besar. “Mendekatlah agar kau tak hilang” ucap Wei tiba-tiba, lagi-lagi seperti membaca pikiranku.
Untungnya kekhawatiranku tak berlangsung lama. Sekitar 10 menit sejak mulai berdesakan di antrean dan tram, kami sudah sampai di tujuan. Tepat sesuai perkiraanku, tram ini membawaku ke destinasi favorit wisatawan untuk melihat Hong Kong dari ketinggian, The Peak.
“Aku ingin menebus rasa terkejutmu tadi, jadi kuajak kau ke tempat yang lebih layak untuk melihat pemandangan Hong Kong, dan tentunya dengan pemandangan yang lebih baik, meski sisi yang kita lihat berbeda. Kali ini dari ketinggian bukan dari tepi laut.” jelas Wei sesampainya di stasiun tram di Peak Tower.
“Di mana titik terbaik untuk melihat pemandangan?” tanyaku sambil memperhatikan sekeliling, deretan toko menjual souvenir khas Hong Kong.
“Kita coba keluar Peak Tower terlebih dahulu. Ada suatu titik bernama Lions Pavilion. Sebenarnya kau sudah bisa mendapatkan pemandangan dengan cukup baik di sana, hanya saja tempat tersebut sangat ramai karena gratis sehingga sangat mungkin jika pemandangannya terhalang manusia.”
---
Tepat seperti perkataan Wei, Lions Pavilion sudah disesaki manusia ketika kami datang. Sisi yang masih bisa kami tempati menawarkan pemandangan yang kurang baik karena tertutup pepohonan.

“Sepertinya lebih baik kita kembali ke Peak Tower dan naik ke Sky Terrace 428. Di sana pemandangan lebih baik meskipun ada biaya yang harus kita keluarkan.”
“Baiklah, tak masalah.”
Kami kembali melangkah memasuki Peak Tower dan menaiki satu per satu lantai. Ternyata tak perlu mencapai lantai tertinggi untuk membuatku kagum dengan pemandangan pencakar langit Hong Kong jika pemandangan dari eskalator saja sudah sangat menarik.

Dan benar saja pemandangan dari Sky Terrace 428 membuatku tak mampu berkata-kata.

“Kau tak lapar?” suara Wei mengalihkan pandanganku dari pemandangan yang luar biasa.
“Kau lapar?”
“Mengapa kau balik bertanya? Jawab dulu pertanyaanku.” balasnya sambil tertawa.
“Hahaha, sedikit. Sekarang jawab pertanyaanku yang tadi” balasku.
“Sangat. Hahaha. Ayo kita makan. Aku akan membawamu ke tempat spesial.”
---
“McDonald?” tanyaku sesampainya kami di restoran cepat saji ini.
“Iya hahahaha.” jawabnya santai disertai tawa puasnya.
“Untuk apa aku jauh-jauh ke Hongkong kalau makan McDonald? Apa spesialnya?” kebawelanku sudah mulai dapat kukeluarkan pada "teman" baruku ini.
“Karena slogannya. I’m loving….”
“it?”
“You.”
Kami terdiam. Tiba-tiba tawanya pecah “Hahahahahaha aku bercanda. Aku sangat lapar dan baru ingat bahwa pukul 4 harus mengunjungi nenekku jadi aku harus mendapatkan makanan yang cepat.”
“Pukul 4? 10 menit lagi? Mengapa kau tak bilang?”
“Sudah kubilang aku baru ingat. Hanya saja kita harus berlari ke stasiun setelah ini. Kau siap?”
---
“Terimakasih atas hari ini Wei.” Pada akhirnya kuucapkan terimakasih dengan tulus meski perjalanan hari ini sangat tidak terprediksi.
“Justru aku yang berterimakasih padamu sudah percaya untuk berkeliling denganku. Sudah lama aku tidak berkeliling Hong Kong seperti ini, terlebih dengan teman baru. Ngomong-ngomong apakah kau masih punya pulpen?”
“Apa lagi yang ingin kau tanyakan kali ini?” jawabku balik bertanya.
“Sungguh terlalu percaya diri. Kali ini aku sungguh butuh pulpen untuk menuliskan emailku atau media sosialku padamu.” Ia tertawa.
Kuserahkan pulpen dan secarik kertas, ia menuliskan email dan media sosial miliknya.
“Jangan lupa saling berkabar, Jasmine!” ia pergi ke arah peron MTR sambil melambaikan tangan.





Comments