top of page

Samosir

  • Jun 23, 2019
  • 4 min read

Bus berhenti. Kubawa diriku turun bersama carrier di pundak. Nampak tugu sepasang pria dan wanita di seberang jalan, persis seperti Tugu Selamat Datang hanya saja yang ini memakai baju adat Sumatera Utara. Kuseberangi jalan menuju tugu itu. Tak jauh terlihat sekumpulan muda mudi lengkap dengan carriernya masing-masing. Mereka berkumpul tepat di samping tulisan “Danau Toba”.

“Jasmine ya?” seorang lelaki, yang sepertinya bernama Dimas, menyambutku. “Iya, Dimas ya?” tanyaku memastikan apakah sosok di depanku benar seseorang yang selalu muncul di grup whatsapp tim perjalanan ini. “Iya benar.” senyumnya mengembang. “Teman-teman sepertinya kita sudah lengkap.” Ia bergerak menjauhiku, berbicara pada rombongan yang sudah hadir.

“Sebelum memulai perjalanan ini, ijinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Dimas. Aku akan memandu teman-teman yang mungkin baru pertama kali menginjakkan kaki di sini. Selanjutnya ada baiknya kita memperkenalkan diri satu per satu karena tak kenal maka tak sayang kan?” lanjutnya mengoordinir kami, para solo traveler yang mendaftarkan diri di perkumpulan ini untuk mendapat teman menjelajah.

“Baiklah karena semua sudah memperkenalkan diri, sebaiknya kita segera naik kapal. Perjalanan ke Pulau Samosir dimulai!”

---

Kapal nampak lengang setibaku di dalam. Katanya sejak kejadian tahun 2018 lalu, jumlah wisatawan menurun. Tentu sangat sulit membangun kembali kepercayaan wisatawan akan keamanan kapal, pikirku. Dalam diam, kulangkahkan kaki menuju salah satu kursi kosong di samping jendela.

Tak berapa lama, seseorang mengisi kursi tepat di depanku. Seorang lelaki seumuranku yang sepertinya juga rombongan solo traveler ini. Dijatuhkan badannya di kursi dengan agak keras hingga sandaran kursi tersebut sedikit terdorong ke belakang, mengenai badanku. “Eh sorry!” ia membalikkan badannya menghadapku. “Tak apa.” Ia tersenyum. “Kau juga dari rombongan solo traveler kan? Maditra?” tanyaku memastikan. “Ah iya benar. Maaf aku susah mengingat orang baru. Siapa namamu tadi?” tanyanya. “Jasmine.” “OK, senang berkenalan denganmu lagi, Jasmine. Sepertinya setelah kapal bergerak aku ingin ke geladak kapal. Mau ikut?” tanyanya. “Tentu”.

---

Perjalanan ke Pulau Samosir memakan waktu kurang lebih satu jam. Di menit ke-sepuluh, kamipun memutuskan untuk ke geladak kapal.

“Berkelana seperti ini selalu membuatku merasa sangat kecil.” Maditra memulai percakapan. “Sama. Hal sekecil Danau Toba di peta bisa sebesar ini dalam keadaan aslinya.” timpalku. Kemudian kami menikmati danau dalam diam. Hanya hembus angin yang mengisi di kanan dan kiri.

---

Sisa perjalanan kami habiskan di geladak, mulai dari diskusi kecelakaan kapal Danau Toba, debat alot pilihan lagu favorit untuk perjalanan, hingga tawa di sela cerita konyol perjalanan masing-masing. Waktu yang terbuang secara berkualitas memang tidak terasa, hingga tibalah kami di Pelabuhan Penyeberangan Tomok, Pulau Samosir.

“Teman-teman kita berkumpul sebentar,” suara Dimas memandu rombongan kembali. “Di depan akan ada deretan pertokoan suvenir yang cukup ramai dan sering kali berdesakan. Pastikan aku selalu terlihat untuk kalian ikuti, OK? Agenda kita adalah menonton tarian Sigale-gale dilanjutkan ke Museum Batak. Ada yang ingin ditanyakan?” kami semua diam. “Baiklah kalau begitu, kita masuk.” tutup Dimas, mulai melangkahkan kaki. Dan benar saja deretan toko suvenir ini nampak sangat ramai.

Aku kurang suka keramaian. Banyaknya orang yang berlalu lalang dengan arah yang tidak teratur sangat memusingkan. Aku memperlambat langkah, memastikan pandanganku tidak berputar. Kudapati beberapa orang dari rombongan mulai menyalipku. Tak apa, yang penting peningku mereda. Sambil menyeimbangkan badan, kutolehkan pandangan ke deretan toko suvenir dan ada suatu barang yang menarik perhatianku. Sebuah patung kecil berbentuk orang berwarna coklat tua, mendekati hitam. Kudekati barang itu. “Jasmine!” suara Maditra terdengar. “Apa yang kau lakukan? Kau akan kehilangan jejak Dimas.” Kupalingkan wajah ke sisi depan dan benar, kami sudah terpencar dari rombongan. “Aku harus berjalan pelan di antara manusia yang berdesakan seperti ini.” jelasku. “Hmm, baiklah kita coba cari mereka.” Maditra menggaruk kepalanya, meski sepertinya tidak gatal.

---

“Ada 3 lokasi pertunjukkan Sigale-gale di sini.” Maditra mengulangi perkataan seorang penjual tadi. “Apakah memungkinkan untuk mendatangi ketiganya? Atau kita hubungi saja Dimas.” usulku sambil merogoh ponsel. “Entah, aku tidak tahu pasti seberapa jauh jarak ketiganya dan entahlah apa kita bisa menghubungi Dimas dengan sinyal seperti ini.” Aku setuju. Sinyal ponselku juga tidak stabil. “Sebaiknya kita menuju ke salah satunya terlebih dahulu, entah bertemu dengan rombongan atau tidak. Toh kita masih berdua, tidak benar-benar hilang. Bagaimana?” Ia meminta persetujuan. “Baiklah.”

---

Setelah beberapa menit berjalan di koridor toko, yang lama kelamaan menanjak, sampailah kami di salah satu lokasi pertunjukkan Sigale-gale. Terlihat banyak wisatawan sedang menari di depan dengan seorang bapak yang memandu gerakan tari.

Tak berapa lama, rombongan wisatawan ini selesai menari dan bapak pemandu mulai menyambut rombongan baru, termasuk aku dan Maditra di dalamnya.

“Selamat datang kepada Bapak dan Ibu semua. Setelah ini Bapak dan Ibu akan menari bersama Sigale-gale namun sebelumnya akan saya ceritakan legenda di balik boneka Sigale-gale ini. Konon dulu ada seorang raja yang memiliki seorang anak bernama Manggale. Suatu hari, Manggale pergi untuk berperang dan disebutkan bahwa ia meninggal di medan perang tersebut. Sayangnya jasadnya tidak pernah ditemukan. Sang raja frustasi sehingga membuat patung yang menyerupai anaknya, seperti ini.” Bapak pemandu menunjuk patung berbentuk orang berwarna coklat tua mendekati hitam, persis yang membuatku kehilangan rombongan.

“Saat itu, konon patung ini menari 7 hari 7 malam, namun saat ini diperlukan tali di belakangnya untuk menggerakkannya. Setelah ini bapak ibu dapat berpartisipasi menari bersama Sigale-gale. Jangan lupa mengenakan kain ulos dan ikat kepala yang telah disediakan.”

---

“Setelah ini kita langsung saja ke Museum Batak. Tadi Dimas menghubungiku dan bilang lanjutkan saja pertunjukkan Sigale-gale kalian, bertemu saja nanti di Museum Batak.” Maditra membuka pembicaraan. “Lewat mana ke Museum Batak?” “Kembali ke koridor toko tadi, jalan akan terus menanjak. Museum ada di kiri jalan.”

Kami tiba di Museum Batak dan nampak Dimas berdiri di halaman depan. “Ini dia pasangan kita yang menghilang.” Dimas menyambut kami sambil tawa. “Kami baik-baik saja, bro.” Maditra dan Dimas nampak langsung membicarakan sesuatu, sementara aku mengamati bangunan museum. Sangat tradisional namun sangat cantik.

“Naiklah duluan.”

“Ok”

Museum ini berisi berbagai perabot dan barang-barang masyarakat Samosir, mulai dari barang sehari-hari hingga patung-patung yang dianggap memiliki artian khusus seperti pelindung, dll. Ternyata boneka Sigale-gale yang asli juga ada di sini. Sambil kuamati satu persatu barang yang ada…

“Jasmine, ke mana saja kamu!” seseorang, yang aku tak ingat namanya, mendatangiku. Diikuti beberapa orang lain yang juga bagian dari rombongan. “Iya, maaf ya, aku agak kesulitan mengikuti langkah kaki kalian.” jelasku, cengar-cengir. “Beberapa hari ke depan jangan nyasar lagi ya!” seorang lainnya menyeletuk. “Iya tenang.” Aku tersenyum.

---

“Sebelas, dua belas, OK kita sudah lengkap.” Dimas menghitung jumlah kami. “Bagaimana testimoni Pulau Samosir? Oh mungkin dari dua sejoli yang hilang tadi saja, bagaimana Samosir?” rombongan mendadak riuh dengan tawa. “Asyik Dim, izinkan kami berdua lagi ya besok-besok, ingat pesan tadi di museum.” Maditra menjawab ngasal. Keriuhan makin terdengar. “Sudah-sudah, kapal kita sudah merapat, mari kita kembali ke Parapat.”


Comments


You Might Also Like:
About Me

Selamat Datang! I'm Jasmine. An Indonesian girl who is wishing to travel the world.

 

Join my mailing list

Search by Tags

© 2023 by Going Places. Proudly created with Wix.com

bottom of page